Pages

Angklung & Calung - Seni Musik

Kamis, 04 Februari 2016



*                  Sejarah Angklung


Angklung adalah alat musik terbuat dari dua tabung bambu yang ditancapkan pada sebuah bingkai yang juga terbuat dari bambu.Tabung-tabung tersebut diasah sedemikian rupa sehingga menghasilkan nada yang beresonansi jika dipukulkan.Dua tabung tersebut kemudian ditata mengikuti tangga nada oktaf.Untuk memainkannya, bagian bawah dari bingkai ini dipegang oleh satu tangan, sementara tangan yang lain menggoyangkan angklung secara cepat dari sisi kiri ke kanan dan sebaliknya. Hal ini akan menghasilkan suatu nada yang berulang. Dengan demikian, dibutuhkan sebanyak tiga atau lebih pemain angklung dalam satu ansembel, untuk menghasilkan melodi yang lengkap.
Angklung telah populer di seluruh Asia Tenggara, namun sesungguhnya berasal dari Indonesia dan telah dimainkan oleh etnis Sunda di Provinsi Jawa Barat sejak zaman dahulu.Kata “angklung” berasal dari dua kata “angka” dan “lung”.Angka berarti “nada”, dan lung berarti “putus” atau “hilang”.Angklung dengan demikian berarti “nada yang terputus”.
Pada zaman dahulu,pada periode Hindu dan Kerajaan Sunda, Jawa Barat, angklung memegang peranan sangat penting pada beberapa upacara ritual masyarakat Sunda dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai perantara dalam ritual, angklung dimainkan untuk menghormati Dewi Sri, dewi kesuburan, dengan harapan agar negeri dan kehidupan mereka dapat diberkati.Di kemudian hari, menurut Kidung Sunda, alat musik ini juga digunakan oleh Kerajaan Sunda untuk penyemangat dalam situasi pertempuran di Perang Bubat.
Angklung tertua yang masih ada sampai kini ialah Angklung Gubrag.Angklung ini dibuat pada abad ke-17 di Jasinga,Bogor.Pada saat ini, beberapa angklung dari zaman dahulu masih tersimpan di Museum Sri Baduga, Bandung.
Seiring berjalannya waktu, angklung telah menarik banyak perhatian di dunia internasional.Pada tahun 1938, Daeng Soetigna, dari Bandung, menciptakan angklung yang berdasarkan tangga nada diatonik, alih-alih menggunakan tangga nada tradisional pélog atau saléndro.Sejak saat itu, angklung digunakan untuk tujuan pendidikan dan hiburan, dan bahkan dapat pula dimainkan bersama dengan alat-alat musik barat dalam orkestra.Salah satu penampilan angklung dalam orkestra yang sangat terkenal ialah pada Konferensi Asia-Afrika di Bandung tahun 1955. Udjo Ngalagena, seorang murid dari Daeng Soetigna, kemudian membuka “Saung Angklung” (Rumah  Angklung) pada tahun 1966 sebagai pusat pengembangan angklung.
UNESCO menetapkan angklung sebagai Karya Budaya Takbenda dan Warisan Budaya Dunia pada tanggal 18 November 2010.Di samping itu, UNESCO menyarankan dengan sangat kepadaIndonesia untuk senantiasa menjaga dan melestarikan karya dan warisan budayanya.
*                Pengertian Angklung
Angklung adalah alat musik yang terbuat dari ruas-ruas bambu, cara memainkannya digoyangkan serta digetarkan oleh tangan, alat musik ini telah lama dikenal di beberapa daerah di Indonesia, terutama di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali.Kata Angklung berasal dari Bahasa Sunda “angkleung-angkleungan”yaitu gerakan pemain Angklung dan suara “klung” yang dihasilkannya.Angklung berasal dari kata “angka” yang berarti nada dan “lung” yang berarti pecah.Jadi Angklung merujuk nada yang pecah atau nada yang tidak lengkap.Sedangkan arti angklung menurut mitologi Bali berasal dari kata angka artinya nada, “lung”  artinya patah hilang, sehingga dapat pula diartikan sebagai nada/laras yang tidak lengkap, dan sesuai dengan istilah cuman kirang di Bali yang berarti kesurupan empat nada.Kata Angklung diambil dari cara alat musik tersebut dimainkan.Alat musik ini terbuat dari sepasang tabung bambu, yang dirangkai dengan beberapa bilah bambu lainnya.Struktur tersebut menghasilkan karakter suara yang unik dan sukar ditiru oleh instrumen musik lainnya.
*                Cara Pembuatan Angklung
Cara membuat Angklung yaitu:
1.                   Seruas bambu dikupas dan ukuran panjang pendek serta diameter diselaraskan dengan ukuran yang ditentukan.Untuk meninggikan nada biasanya dengan cara memperkecil volume yaitu memotong ujung daun, sedangkan untuk merendahkan nada dengan cara memperbesar volume tabung.Memperbesar volume tabung dilakukan dengan cara menipiskan bibir tabung atau bibir angklung dilapisi lilin.Dapat pula dengan cara menipiskan tangkai angklung sebagai daunnya.
2.                  Bambu yang dibuat angklung diolah dengan cara khusus.Waktu penebangan dilakukan pada saar kemarau. Setelah ditebang bambu dibiarkan hingga daun-daunnya rontok dengan sendirinya, kemudian dipotong-potong menurut ukuran yang dibutuhkan. Setelah itu diikat lalu direndam selama satu minggu. Fungsi perendaman adalah untuk melepaskan kotoran yang melekat pada tabung dan ruas bambu. Proses selanjutnya bambu dikeringkan (digarang dina para seuneu) selama 40 hari. Bambu yang terbelah tidak memenuhi syarat mutu untuk angklung. Bambu yang utuhlah yang memenuhi syarat standar mutu dibuat angklung.
*                  Bagian – bagian Angklung
Angklung terdiri dari beberapa bagian, yaitu :
1.                   Tabung sora yang terdiri dari 2 Tabung
a.                   Tabung kecil terletak di sebelah kiri dan,
b.                  Tabung besar yang berada di sebelah kanan
2.                  Ancak yaitu bagian rangka Angklung yang dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu :
c. Jejer bagian dari ancak (rangka angklung)
d. Tabung dasar (bawah)
e. Palang Gantung sebagai penyangga tabung sora
Angklung di Bali terdiri dari 4 ancak, seperti yang terdapat pada nama-nama angklung Ciusul Banten di antaranya :
1.                    Angklung kecil bernama kingking
2.                  Angklung no. 2 bernama panempas
3.                   Angklung besar bernama engklok
4.                  Angklung terbesar bernama jongjorang
Angklung Ciusul ini dilengkapi dengan dog-dog jor, bende, dan kecrek seperti angklung Citorek banten. Angklung gubrag juga mempunyai fungsi yang hampir sama dengan angklung Ciusul Banten.
Angklung gubrag yang berasal dari daerah Kabupaten Bogor ini berfungsi untuk upacara adat bercocok tanam padi. Jumlah instrumen angklung yang dipergunakan ada 9 buah, yang dilengkapi dengan dog-dog lojor yang berfungsi sebagai kendang. Hanya titi laras pada angklung gubrag adalah pelog, berbeda dengan angklung Ciusul Banten.









~ HASIL DISKUSI TENTANG ALAT MUSIK CALUNG ~
*                Sejarah Calung
Calung merupakan alat musik tradisional yang berasal dari Jawa Barat dan menjadi ciri khas budaya Sunda yang selama ini ada dan bertahan di sana, sering kali orang menganggap sama antara calungdengan angklung, pada dasarnya alat musik ini sama-sama terbuat dari bambu yang dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan nada-nada harmonis, bedanya adalah pada cara memainkannya, kalau angklung dimainkan dengan cara digetarkan atau digoyang-goyangkan, sedangkan calung dimainkan dengan cara dipukul.
Jika ditelisik lebih jauh lagi, calung menurut Kamus Umum Bahasa Sunda adalah tatabeuhan tina awi guluntungan, aya siga gambang, aya nu ditiir sarta ditakolan bari dijinjing. Nah, dari pengertian tersebut dapat dimaknai bahwa calung adalah sejenis alat musik yang terbuat dari bambu, yang dimainkan dengan cara memukul sembari dijinjing. Calung juga mempunyai pengertian lainnya, yakni seni pertunjukan.Nah, seni pertunjukan ini tentunya dengan menggunakan alat pokoknya calung.Lantas, apa yang membedakan antara calung dan angklung? Karena merupakan sebuah prototipe dari angklung, perbedaannya hanya dari cara memainkannya. Jika bermain angklung dilakukan dengan cara digoyangkan, calung dimainkan dengan cara dipukul.
Tentu saja bahanuntuk membuat calung dan angklung ini sama, yakni bambu. Agar suara yang dihasilkannya bagus, bambu tersebut dipilih dengan baik.Biasanya, bamboo yang digunakannya adalah jenis awi wulung dan awi temen.Bermain calung tentunya tidak sembarang kita memukulnya.Ada beberapa hal dasar yang harus kita ketahui.Nah, salah satu di antaranya adalah memukul bilahan bambu yang disusun menurut tangga nada, yakni da-mi-na-ti-la. 
Calung terbuat dari bambu hitam yang memang khusus digunakan untuk membuat calung, karena suara yang dihasilkan akan lebih baik bila menggunakan jenis bambu ini.

*                Bentuk-bentuk calung :
1.      Calung Gambang
Calung gambang adalah sebuah calung yang dideretkan diikat dengan tali tanpa menggunakan ancak/standar.Cara memainkannya adalahkedua ujung tali diikatkan pada sebuah pohon/tiang sedangkan kedua tali pangkalnya diikatkan pada pinggang si penabuh.Motif pukulan mirip memukul gambang.
2.       Calung Gamelan
Calung Gamelan adalah jenis calung yang telah tergabung   membentuk ansambel. Sebutan lain dari calung ini adalah salentrong (di Sumedang), alatnya terdiri dari:
-      Dua perangkat calung gambang masing-masing 16 batang
-      Jengglong calung terdiri dari 6 batang
-      Sebuah gong bamboo yang biasa disebut gong bumbung
-      Calung Ketuk dan Calung Kenong terdiri dari 6 batang Kendang
Lagu-lagunya antara lain Cindung Cina (Cik indung menta Caina),  kembang lepang, ilo-ilo, gondang.
3.       Calung Jingjing
Calung Jingjing adalah bentuk calung yang ditampilkan dengan dijingjing/dibawa dengantangan yang satu sedang tangan yang lainnya memegang pemukul. Calung dalam bentuk ini lebih digemaridibandingkan dengan bentuk calung yang lain.
Alatnya terdiri dari:
-  Calung Melodi mempunyai sepuluh nada s.d. 12 nada
-  Calung pengiring/akompanyemen terdiri dari 10 nada
-  Calung Jengglong terdiri dari 5 nada
-  Calung besar sebanyak dua batang/nada berfungsi sebagai kempul dan gong
*    Perkembangan Calung
Jenis calung yang sekarang berkembang dan dikenal secara umum yaitu calung jingjing. Calung jingjing adalah jenis alat musik yang sudah lama dikenal oleh masyarakat sunda, misalnya pada masyarakat sunda di daerah Sindang Heula – Brebes, Jawa tengah, dan bisa jadi merupakan pengembangan dari bentuk calung rantay. Namun di Jawa Barat, bentuk kesenian ini dirintis popularitasnya ketika para mahasiswa Universitas Padjadjaran (UNPAD) yang tergabung dalam Departemen Kesenian Dewan Mahasiswa (Lembaga kesenian UNPAD) mengembangkan bentuk calung ini melalui kreativitasnya pada tahun 1961.
Menurut salah seorang perintisnya, Ekik Barkah, bahwa pengkemasan calung jingjing dengan pertunjukannya diilhami oleh bentuk permainan pada pertunjukan reog yang memadukan unsur tabuh, gerak dan lagu dipadukan. Kemudian pada tahun 1963 bentuk permainan dan tabuh calung lebih dikembangkan lagi oleh kawan-kawan dari Studiklub Teater Bandung (STB; Koswara Sumaamijaya dkk), dan antara tahun 1964 – 1965 calung lebih dimasyarakatkan lagi oleh kawan-kawan di UNPAD sebagai seni pertunjukan yang bersifat hiburan dan informasi penyuluhan (Oman Suparman, Ia Ruchiyat, Eppi K., Enip Sukanda, Edi, Zahir, dan kawan-kawan), dan grup calung SMAN 4 Bandung (Abdurohman dkk). Selanjutnya bermunculan grup-grup calung di masyarakat Bandung, misalnya Layung Sari, Ria Buana, dan Glamor (1970) dan lain-lain, hingga dewasa ini bermunculan nama-nama idola pemain calung antara lain Tajudin Nirwan, Odo, Uko Hendarto, Adang Cengos, dan Hendarso.
Perkembangan kesenian calung begitu pesat di Jawa Barat, hingga ada penambahan beberapa alat musik dalam calung, misalnya kosrek, kacapi, piul (biola) dan bahkan ada yang melengkapi dengan keyboard dan gitar.Unsur vokal menjadi sangat dominan, sehingga banyak bermunculan vokalis calung terkenal, seperti Adang Cengos, dan Hendarso.
Calung yang hidup dan dikenal masyarakat sekarang merupakan prototipe dari angklung yang cara menabuhnya berbeda dengan angklung  cara menabuh calung yaitu dengan memukul-mukul batang ( wilahan ) dari ruas-ruas atau tabung bambu yang tersususn menurut titi laras
( tangga Nada ) penta tonik ( da mi na ti la da ).
     Ada dua bentuk calung sunda yaitu calung rantay dan calung Jingjing waditra calung jinjing terbuat dari bahan bambu hitam ( awi hideung) dan seperangkat calung jingjing yang digunakan dalam pertunjukan biasa bertangga nada Salendro ( bertangga nada Pelog ) serta Madenda
( nyorog ) wadrita calung jinjing merupakan perkembangan dari bentuk calung Rantai/calung Gambang, calung dalam bentuk ini sudah merupakan seni pertunjukan yang bersifat hiburan.
     Calung jinjing berasal dari bentuk dasar calung rantay ini telah dibuat dalam empat bagian bentuk wadrita yang terpisah , keempat buah wadrita terpisah ini memainkan dengan cara dijinjing oleh empat pemain dan masing-masing memegang calung dalam fungsi berbeda . Wadrita calung terdiri dari 1 Kingking, 2 Panepas, 3 jongong, 4 gonggong sedangkan calung kingking jumlahnya limabelas nada / oktaf dala nada yang paling kecil ( teringgi )
Calung Panepas jumlahnya lima potong untuk lima nada (1Oktaf) nadanya merupakan sambungan nada terendah calung kingking dan dari lima nada tersebut ada yang yang dibagi dua ada yang digorok ( disatukan jongjong seperti halnya panepas yang berbeda hanya nadanya yang lebih rendah dari panepas ) nada panepas bentuknya selalu tinggi dibagi dua yaitu 3 potong untuk nada berturut-turut dari yang tinggi, dua potong untuk dua nada lanjutan.
Calung Gonggong merupakan calung yang paling besar jumlahnya hanya dua bumbung yang disatukan keduanya dalam nada rendah diantara keseluruhan calung. Jenis calung yang sekarang berkembang dan dikenal adalah calung jingjing .
Calung yang perkembangannya lebih mengarah pada kecalung dangdut (caldut) lagu maupun musiknya ditambah drum, gitar, keybord dan memakai tata lampu untuk pertunjukannya. Di Kabupaten Bandung yang tercatat di Dinas Kebudayaan dan Parawisata tersebar di Kecamatan maupun di desa-desa kurang lebih 40 group diantaranya Marahmay, Oces, Cinde agung, Sinar Pasundan, Mitra Siliwangi, Calawak Group, Mekar wangi, Gentra Priangan, Dangdiang, sariak layung dll.

*    Fungsi Calung

Tentunya berbagai alat musik yang digunakan memiliki fungsi yang berbeda-beda.Pada awalnya, calung berfungsi sebagai sarana upacara ritual masyarakat sunda.Calung difungsikan sebagai alat pengiring dalam upacara adat seperti mapag sri.Selain sebagai media upacara ritual, calung pun berfungsi sebagai alat hiburan dan seni pertunjukan.
Dalam perkembangannya, fungsi calung bergeser pada fungsi yang terakhir, yakni sebagai seni pertunjukan.Sebagai seni pertunjukan yang menggunakan alat pokok calung, calung telah melahirkan beberapa seniman.Kita lihat saja seniman asal Jawa Barat, Hendarso (Darso), yang menunjukkan bakat seninya yang diiringi dengan calung. 
Sebenarnya, para inohong Sunda sangat gembira dengan munculnya Darso.Darso telah dianggap mempopulerkan calung sebagai alat musik tradisional sunda.Gaya seni pertunjukan Darso ternyata telah merasuk kepada para penerus musik tradisional sunda.Untuk mengikuti perkembangan zaman, sekarang calung telah dipadukan dengan jenis musik tertentu, yakni dangdut, yang biasanya disebut caldut (calung dangdut).


1 komentar:

  1. Bingung Mencari Situs Judi Online Yang Terpercaya??
    Buruan Join Sekarang Juga Bersama ZoyaQQ.org Dan Daftarkan ID Kamu Sekarang Juga!!
    Raih Jutaan Rupiah Selama Bermain Disini
    Rasakan Sensasi Kenyamanan Bermain Bersama Zoya99
    - 8 Permainan Terbaik 2018
    - Pelayanan Coustumer Servis Yang Baik,Ramah, Dan Professional
    - Porses Depo / WD Super Cepat
    - Permainan Yang 100% Fair Play (Member Vs Member)
    - Minimal Depo / WD Hanya 20ribu
    - Pendaftaran Geratis
    Peluang Menjadi Jutawan Terbesar
    Hanya Disini Anda Bisa Menjadi Jutawan Besar
    CONTAC US:
    FACEBOOK : zoya99_net
    PIN BBM : D8B82A86 / 2BE5BC31
    WA : +85515370075
    Line : zoya_qq
    Instagram : Zoya99_official

    Berita Terkini
    http://beritaharianku9.blogspot.com/2018/04/punya-tato-di-kening-mantan-anak-punk.html

    BalasHapus

 
FREE BLOG TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS